All posts by admin

19Mar/18

TAHAPAN-TAHAPAN DALAM PROSES PENGUKURAN DARI SIKLUS DAUR HIDUP PRODUK (PRODUCK LIFE CYCLE)

Setiap perusahaan, tanpa terkecuali apapun jenis usahanya tetap masih membutuhkan yang namanya upaya marketing dalam segala kegiatannya penjualannya. Kegiatan marketing atau kegiatan pemasaran ini adalah ujung tombak utama bagi perusahaan, yang mana tidak hanya untuk sekedar mendapatkan pemasukan dari penjualan produknya saja, akan tetapi juga untuk mengetahui tentang seberapa jauh produknya dapat diterima dan dapat bersaing dengan para kompetitornya.

skpDalam segala aktivitas pemasaran tersebut terdapat adanya beberapa tahapan yang dapat mendukung perusahaan dalam menganalisis sejauh mana produknya dapat bertahan secara lebih kompetitif. Proses dari tahapan seperti ini biasanya disebut dengan siklus hidup produk atau Product Life Cycle yang telah diperkenalkan oleh Levitt dan sampai saat ini masih banyak diterapkan oleh perusahaan.

Manfaat dari konsep siklus hidup produk ini adalah untuk membantu para pihak-pihak pengambil keputusan untuk memahami tentang bagaimana dinamika sesungguhnya dari produk dan pasar. Dalam hal penggunaannya sebagai salah satu alat perencanaan, konsep dari daur hidup produk dan hal ini akan semakin memperjelas berbagai tantangan tentang pemasaran yang ada serta berbagai alternatif strategis yang mungkin masih bisa untuk diterapkan. Sebagai salah satu alat pengendali utama, dari konsep ini akan sangat membantu perusahaan dalam membandingkan presetasi apa saja yang selama ini sudah diraihnya dengan produksi yang sejenis pada periode sebelumnya.

Pada dasarnya, untuk siklus hidup dari produk ini yang menjadi lebih dinamis karena semakin lamanya periode pada suatu tahap yang tidak bisa ditentukan dan para supervisor/manajer yang tidak dapat memastikan ditahap mana saja produk mereka berada pada saat tersebut. Hal ini karena suatu produk memang tampak sudah mencapai tahap kedewasaan, padahal sebenarnya masih berada pada tahap pertumbuhan untuk sementara waktu. Untuk siklus daur hidup ini sendiri memang lebih banyak digunakan sebagai salah satu dasar acuan dalam menentukan bagaimana strategi marketing selanjutnya.

Siklus daur hidup produk ini terbagi menjadi empat macam tahapan, yaitu :

1. Introduction (Tahap Perkenalan).

Pada tahap perkenalan ini barang yang akan ditawarkan adalah berupa barang yang benar-benar baru dan dijual dalam jumlah yang lebih besar meskipun volume penjualan masih sangat rendah. Karena masih dalam tahap permulaan, maka biasanya akan membutuhkan biaya promosi yang lebih tinggi karena harus dilakukan dengan lebih agresif.

2. Growth (Tahap Pertumbuhan).

Penjualan dan laba akan mengalami peningkatan yang lebih pesat pada tahap pertumbuhan. Hal ini terjadi karena konsumen sudah sangat mengenal produk Anda, sehingga terjadi peningkatan permintaan. Bisa dikatakan hal ini adalah buah dari promosi agresif yang sering dilakukan sebelumnya. Namun demikian, Anda tidak boleh terus terlena. Karena para pesaing akan memasuki pasar dan menjadikan kompetisi menjadi semakin sengit. Trik yang dapat digunakan untuk semakin memperluas jangkauan distribusi dan mampu untuk semakin meningkatkan penjualan adalah dengan menurunkan sedikit harga jualnya.

3. Maturity (Tahap Kedewasaan).

Penjualan terus mengalami peningkatan pada tahap seperti ini dan pada tahap berikutnya akan lebih cenderung tetap. Laba produsen dan pengecer sudah mulai menurun pada tahap ini sebagai akibat dari adanya persaingan harga yang sangat ketat. Untuk menyiasatinya maka perusahaan sangat perlu untuk berinovasi atau membuat produk baru yang lebih baik. Pada tahap seperti ini, maka tindakan promosi harus lebih digencarkan kembali untuk menghadapi semakin kerasnya kompetisi.

4. Decline (Tahap Kemunduran).

Produk yang telah dihasilkan akan mulai mengalami keusangan dan harus segera diperbaharui ulang dengan berinovasi kembali terhadap produk terbaru. Pada tahap seperti ini, maka peluncuran produk baru sangat penting untuk dilakukan dalam upaya untuk menggantikan produk yang sudah lama.Tanpa adanya produk hasil keluaran inovasi terbaru, maka perusahaan hanya akan dapat menyasar target-target pasar tertentu yang terbatas saja. Pengontrolan terhadap biaya harus selalu dilakukan karena permintaaan yang terus mengalami penurunan.

Beberapa langkah yang mungkin masih dapat dilakukan oleh perusahaan untuk menyiasati tahap ini adalah dengan beberapa cara berikut, yaitu:

• Melakukan berbagai pembaharuan terhadap.
• Meninjau ulang dan memperbaiki berbagai strategi pemasaran dan produksi agar dapat menjadi lebih efisien.
• Menghilangkan fitur atau model-model lama yang sudah mulai usang.
• Menghilangkan sebagian jenis barang untuk menghasilkan laba yang lebih optimal pada barang yang sudah ada saja.
• Sama sekali meninggalkan barang tersebut.

Siklus hidup produk hendaknya harus dapat memberikan indikasi tentang perkembangan produk yang dapat diterima oleh konsumen. Ukuran yang digunakan sebagai dasar acuan tersebut adalah dari tingkat penjualan produk dan tingkat keuntungannya. Perbedaan dalam setiap tahap dari daur hidup produk akan membutuhkan adanya strategi pemasaran khusus yang berbeda-beda.

 

 

 

Groedu Academy E-Learning

City Of Tomorrow Mall, Jl. A Yani No. 288 (Bunderan Waru) Lantai UG, Blok US 23, No. 3 & 5, Surabaya.

Handphone : 0818521172 (XL), 081252982900 (Simpati)
Office (only call no sms)  : 0811-3444-910
Email : groedu@gmail.com/groedu_inti@hotmail.com

14Mar/18

CARA YANG LEBIH MUDAH DALAM MEMPERLAKUKAN PERALATAN BERNILAI KECIL BERDASARKAN AKUNTANSI

Pada kegiatan operasional perusahaan, seringkali kita menemukan adanya perlengkapan-perlengkapan kecil yang sifatnya akan cepat habis dengan sekali pakai yang akan digunakan sebagai alat bantu yang memang banyak dibutuhkan untuk menunjang adanya kelancaran pekerjaan. Perlengkapan-perlengkapan kecil seperti ini nilainya terkadang juga tidak bersifat materiil, dan kadang-kadang masih terdapat yang umurnya bisa lebih dari satu tahun. Biasanya lebih sering disebut sebagai perlengkapan (supplies).

stationery-office-supplies-icons-Download-Royalty-free-Vector-File-EPS-39794Dalam akuntansi terdapat dua jenis perlengkapan, yaitu:

1. Perlengkapan Pabrik (Factory Supplies).

Persediaan seperti ini meliputi barang-barang untuk pemeliharaan, perlengkapan kebersihan, dan berupa barang-barang yang dianggap lebih terkait dengan proses produksi. Barang-barang tersebut memang dibebankan pada saat digunakan. Sehingga perusahaan seharusnya mencatat uuntuk pemakaian perlengkapan tersebut dan biasanya juga harus melakukan penghitungan secara fisik atas perlengkapan yang masih tersisa, agar dapat diketahui berapa saldo terakhirnya yang nanti akan masuk ke dalam akun asset perusahaan. Namun ada juga dari sebagian perusahaan yang mencatat pemakaian perlengkapan seperti ini termasuk sebagai biaya overhead  pabrik yang akan dialokasikan ke dalam HPP dari setiap unit yang diproduksinya.

2. Perlengkapan Kantor (Office Supplies).

Persediaan ini adalah berupa barang-barang kecil seperti kertas, tinta printer, clipper, stapler, alat tulis, dan lain sebagainya. Biasanya memang nilainya sangat rendah, sehingga bisa dibebankan kepada saat pembelian produknya. Untuk jenis perusahaan yang berskala lebih besar metode seperti ini sebenarnya sangat tidak dianjurkan karena tidak mencerminkan posisi nilai akuntansi yang sesungguhnya.

Dan sebaiknya perusahaan tetap menggunakan metode akrual, yaitu menghitung nilai dari pemakaian perlengkapan kantor, dengan cara menjumlahkan setiap nilai saldo awal yang ditambahkan dengan nilai pembelian lalu harus dikurangi dengan sisa stok secara fisik (setelah dilakukan proses stok opname). Maka pemakaian inilah yang kemudian akan dijadikan sebagai beban pemakaian perlengkapan pada saat periode yang bersangkutan.

Karaketristik Dari Setiap yang Disebut Dengan Perlengkapan

Jenis perlengkapan sebenarnya juga bermacam-macam dan apabila disebutkan mungkin saja akan menjadi sangat panjang, bahkan terdapat juga yang terlalu sulit untuk dinamakan. Namun begitu kita dapat mengenali apa saja karakternya, maka itulah yang disebut dengan perlengkapan, dan berikut ini adalah beberapa karakter umum dari yang disebut dengan perlengkapan:

1. Fungsi Penggunaannya.

Perlengkapan tidak mampu menghasilkan barang/jasa secara langsung, melainkan membutuhkan bantuan mesin/equipment lain, karena memang fungsinya hanya sebagai  alat penunjang operasional saja.

2. Nilai Perlengkapan.

Perlengkapan biasanya untuk masalah nilai tidak besar (dalam nilai uang).

3. Umur Ekonomis

Perlengkapan biasanya berumur ekonomis lebih dari satu tahun buku. Dan karena hal seperti inilah yang terkadang menjadikan kita semakin ragu untuk menerapkan perlakuan khusus untuk akuntansinya. Melihat dari nilai unitnya yang jika diuangkan relatif tidak besar, dan rasanya perlengkapan akan menjadi lebih mudah apabila dikelompokkan ke dalam kategori biaya, karena itulah mengapa banyak diantara pihak (perusahaan) yang memasukkan pembelian perlengkapannya ke dalam biaya. Namun untuk metode seperti ini malah menjadikan penilaian terhadap akuntansinya menjadi tidak tepat (kurang akurat), karena metode seperti ini malah mengabaikan umur ekonomisnya.

Namun jika dikelompokkan ke dalam aktiva tetap (fixed asset), maka bagaimana cara untuk membebankannya, karena nilainya yang relatif sangat kecil? Apabila dibebankan secara bertahap dengan menyusutkannya, maka jelas merupakan pekerjaan yang terlalu rumit. Bisa Anda bayangkan jika ratusan, bahkan ribuan items (bagi perusahaan-perusahaan besar) harus dihitung satu persatu proses penyusutannya. Tentunya sangat merepotkan bukan?

Lalu bagaimana cara paling tepat untuk perlakukannya?

Sebenarnya terdapat dua alternatif pendekatan tercepat yang bisa Anda lakukan, yaitu:

1. The Economical Life Time (Melihat Umur Ekonomisnya).

Pertimbangkanlah berapa perkiraan umur ekonomisnya, jika umurnya jelas-jelas masih kurang dari satu tahun buku, maka tidak ada keraguan lagi bagi Anda untuk mengelompokkan dan memperlakukannya sebagai biaya (dibebankan diperiode yang sama). Namun jika memiliki umur ekonomis yang lebih dari satu tahun buku, maka perlengkapan ini sangat berpotensi besar untuk di kelompokkan ke dalam asset (Tools & Equipment), yang nanti akan tetapi masih perlu untuk mempertimbangkan yang kedua kalinya.

2. The Bulk Value (Melihat Nilai Gabungannya).

Pendekatan yang kedua, jika perlengkapan tersebut dapat digabungkan dengan perlengkapan lain (yang umurnya bisa mencapai lebih dari satu tahun buku juga) maka nilai gabungannya menjadi material (mahal), maka tidak perlu diragukan lagi bahwa perlengkapan tersebut dapat kita kelompokkan ke dalam kelompok Asset (Peralatan & Perlengkapannya/Tools & Equipment dan lain-lain). Untuk jenis perusahaan yang baru saja beroperasi, mungkin memang belum terdapat banyak sekali peralatan, maka yang nanti akan dijadikan sebagai pertimbangan adalah dari potensi penggunaan peralatan di masa yang akan datang, karena sangat mungkin untuk saat ini peralatannya masih lebih sedikit, sehingga apabila digabungkanpun, maka nilainya tidak akan menjadi material, namun bisa jadi di masa mendatang perlengkapan-perlengkapan kecil tersebut akan menjadi sangat signifikan dari nilai gabungannya.

Bagaimana caranya untuk membebankan perlengkapan gabungan?

Seperti yang sebelumnya sudah disampaikan di atas bahwa membebankan perlengkapan secara gabungan dengan cara menyusutkannya dengan satu persatu menggunakan metode penyusutan garis lurus atau saldo menurun, sebenarnya kurang efektif.

Pembebanan peralatan gabungan harus dilakukan menjelang penutupan buku, dengan cara melakukan penghitungan fisik (physical count) atas peralatan gabungan tersebut. Total pembelian peralatan merupakan saldo awal, sedangkan hasil penghitungan fisik merupakan saldo akhir dari peralatan tersebut. Dengan demikian, maka peralatan yang terpakai dapat ditentukan nilainya, seperti contoh berikut:
 
Tanggal 1 April 2017

Stapler                                 = 10 pcs @ Rp 20.000,- Total = Rp 200.000,-
Pembelian Selama Bulan April  = 5   pcs @ Rp 20.000,- Total = Rp 100.000,-
Jumlah Total  = Rp 300.000
 
Sisa Fisik 30 April 2017   = 7   pcs @ Rp 20.000,- Total = Rp 140.000,-
 
Total Pemakaian stapler = 8   pcs @ Rp 20.000,-  Total = Rp 160.000,-
 
Berdasarkan perincian di atas, maka jurnal pembebanan atas penggunaan perlengkapan adalah sebagai berikut:

Debit Penyusutan Peralatan & Perlengakapan                                 Rp 160.000,-
Kredit        Akum. Penyusutan Peralatan & Perlengakapan                   Rp 160.000,-

Semoga bisa bermanfaat dan terimakasih.

 

 

 

Groedu Academy E-Learning

City Of Tomorrow Mall, Jl. A Yani No. 288 (Bunderan Waru) Lantai UG, Blok US 23, No. 3 & 5, Surabaya.

Handphone : 0818521172 (XL), 081252982900 (Simpati)
Office (only call no sms)  : 0811-3444-910
Email : groedu@gmail.com/groedu_inti@hotmail.com