Category Archives: Artikel

30Aug/17

APAKAH ANDA TAHU TENTANG ISTILAH MERCHANT DISCOUNT RATE (MDR) DALAM PENJUALAN PERUSAHAAN?

Apabila di tempat usaha Anda tersedia alat Electronic Data Capture (EDC) untuk menerima pembayaran yang menggunakan kartu (Kredit maupun Debit), maka Anda pasti pernah mendengar istilah Merchant Discount Rate Perusahaan (MDR). Pengertiaan sederhana dari Merchant Discount Rate Perusahaan adalah berupa fee yang akan diminta oleh bank untuk setiap transaksi yang menggunakan EDC milik bank tersebut.

Biasannya MDR berkisar antara 1-3% (tergantung dari kebijakan bank tersebut). Misalnya seorang pelanggan akan membayar belanjaan Rp.100.000.00,- dengan menggesek kartu kredit miliknya. Pada saat digesek tersebut, maka nilai yang dimasukkan oleh kasir ke EDC adalah Rp. 100.000. Setelah itu EDC akan dilakukan settlement untuk memindahkan dana kepada rekening giro atau tabungan bisnis yang sudah tercatat pada sistem bank untuk EDC tersebut. Namun dana yang akan masuk ke dalam rekening adalah hanya RP.98.000.00,- karena akan langsung dipotong Rp.2.000.00,- terkait dengan Merchant Discount Rate Perusahaan yang telah dikenakan adalah sebesar 2% oleh pihak bank.

Lantas bagaimana mencatatnya dalam akuntansi perusahaan Ritel? Perlu diingat bahwa pembayaran menggunakan EDC membutuhkan waktu untuk masuk ke rekening. Waktu yang dibutuhkan bisa bervariasi diantara setiap bank. Namun biasanya tidak akan lebih dari 2 hari. Hal ini berarti bahwa, apakah harus kita catat sebagai piutang atau tetap sebagai pembayaran tunai? Biasanya pada saat menggunakan software accounting hanya mengenal transaksi penjualan  saja yang akan masuk sebagai piutang. Itulah sebabnya pada setiap software accounting kebanyakan yang terdapt dalam menu penjualan hanya ada menu untuk membuat invoice baru. Jadi sebenarnya tidak perlu adanya terlalu kebingungan dalam menentukan hal ini. Namun tetap akan tercatat sebagai piutang sampai benar-benar terjadinya pembayaran yang akan tertera pada semua kelompok Outstanding.

Namun pada saat mencatat penjualan, Anda harus lebih berhati-hati dalam memahami arti dari kata discount yang berada dalam MDR. Memang benar bahwa dalam menu penjualan terdapat kotak discount yang hanya tinggal diisi nilai % dari discount-nya saja. Namun sesungguhnya discount dalam menu penjualan tersebut dimaksudkan untuk discount yang akan diberikan kepada pelanggan.

Jika Anda tidak jeli, maka akan dapat terjadi perselisihan apabila nilai dari MDR ditulis pada penjualan. Kembali ke contoh di atas yang mana nilai transaksi via EDC adalah Rp. 100.000.00,- dengan nilai dari MDR adalah 2%. Jika 2% tersebut ditulis pada menu penjualan, maka invoice yang akan dikirimkan kepada pelanggan akan memuat discount senilai Rp.2.000.00,- dan total nilai transaksi adalah Rp. 98.000.00,-. Pelanggan bisa saja marah dan protes karena nilai yang dibayarnya adalah tetap Rp. 100.000,- padahal dari invoice sudah tertulis nilai total setelah discount adalah Rp.98.000.00,-. Jadi sebaiknya sebisa mungkin Anda hindari menuliskan nilai MDR pada saat mencatat penjualan.

Yang biasanya sudah tersistem dalam kebanyakan Software Accounting lakukan adalah:

1. Mencatat nilai transaksi via EDC yang sesuai dengan nilai transaksi. Nilai discount terkait dengan MDR yang tidak tertulis sama sekali, sehingga pada invoice akan bersih dari MDR.
2. Pertimbangannya adalah agar tidak terjadi perselisihan yang tidak perlu dengan pelanggan akibat nilai total transaksi yang berbeda-beda diantara invoice dengan yang nyata sudah dibayarkan oleh pelanggan.
3. Setelah EDC dilakukan settlement dan masuk dalam rekening, maka invoice yang masih outstanding tersebut akan dilakukan Pembayaran dengan tujuan akun ke rekening bank yang sudah ter-relasi dengan EDC. Nilai pembayaran yang telah diinput tetap sebesar nilai transaksi, yakni jika contoh di atas maka tetap pembayaran adalah Rp.100.000.00,-. Meskipun saldo yang masuk ke dalam rekening menjadi lebih kecil karena sudah dipotong MDR, maka itu adalah urusan berikutnya. Pertimbangannya adalah agar transaksi penjualan yang terjadi dapat selesai terlebih dahulu, yaitu dilunasi secara utuh.
4. Sejatinya MDR adalah hak milik bank karena telah meminjamkan EDC-nya untuk Anda gunakan. Jadi wajar saja jika pihak bank mendapatkan keuntungan dari transaksi yang sudah terjadi menggunakan EDC. Anggap saja biaya sewa/pinjam EDC. Melanjutkan contoh dari atas, setelah nomor 2 dilakukan maka saldo Bank pada software accounting akan segera tertera Rp. 100.000.00,- sementara saldo riil dari bank adalah Rp. 98.000.00,-. Maka lakukanlah pencatatan kas keluar yaitu Biaya Admin Bank sebesar Rp.2.000.00,-. Dengan begitu maka saldo akan menjadi Rp.98.000.00,- sesuai dengan saldo riil dari bank. Apabila Anda ingin mencatatnya secara khusus nilai dari MDR ini, maka bisa saja dibuat akun Biaya khusus, misalnya diberi nama Biaya MDR EDC dari Bank X dan lain sebagainya.

 

 

Groedu Academy E-Learning

City Of Tomorrow Mall, Jl. A Yani No. 288 (Bunderan Waru) Lantai UG, Blok US 23, No. 3 & 5, Surabaya.

Handphone : 0818521172 (XL)
081252982900 (Simpati)
Email : groedu@gmail.com/groedu_inti@hotmail.com

26Aug/17

WASPADAI DELAPAN PEMBOROSAN YANG SERING MENYEBABKAN TINGGINYA TINGKAT KEGAGALAN (BANGKRUT) DALAM INTERNAL PERUSAHAAN

Waste atau 8 Pemborosan seperti ini pertama kali telah diperkenalkan oleh Taiichi Ono yang bekerja di TOYOTA Jepang dalam Sistem Produksi Toyota atau TOYOTA PRODUCTION SYSTEM.

AAEAAQAAAAAAAAhFAAAAJDRlZGRmOWUzLTc3YjAtNDc1ZC1hOWQ1LWQ4MzVhZTQ1MWRmNQBeberapa penjelasan yang berhubungan dengan 8 pemborosan yang dapat dikurangi jika pemimpin perusahaan harus lebih fokus kepada efisiensi demi meningkatkan nilai tambah bagi pelanggan adalah sbb:

1. Waste of Overproduction (Produksi yang terlalu berlebihan).

Waste atau pemborosan yang seringkali terjadi karena kelebihan produksi, baik yang berbentuk finished goods (Barang Jadi) maupun WIP work in progress (barang setengah jadi) namun tidak ada order/pesanan dari Customer. Beberapa alasan akan adanya Overproduction (kelebihan produksi) antara lain adalah karena waktu set-up mesin yang terlalu lama,  atau pemikiran (just in case) ada yang membutuhkannya.

2. Waste of Inventory (Inventori).

Pemborosan yang terjadi karena Inventory adalah karena akumulasi dari finished goods (barang jadi), WIP (barang setengah jadi) dan bahan mentah yang terlalu berlebihan pada semua tahap produksi sehingga membutuhkan adanya tempat penyimpanan, modal yang terlalu besar, orang yang mengawasinya dan pekerjaan dokumentasi (paperwork).

3. Waste of Defects (Cacat / Kerusakan).

 Waste yang terjadi karena semakin buruknya kualitas atau adanya kerusakan/defect sehingga diperlukan adanya perbaikan. Hal ini akan semakin menyebabkan adanya biaya tambahan yang berupa biaya tenaga kerja, komponen yang akan digunakan dalam perbaikan dan berbagai biaya-biaya lainnya.

5. Waste of Transportation (Pemindahan/Transportasi).

Waste yang seringkali terjadi karena tata letak /layout produksi yang begitu buruk, peng-organisasian tempat kerja yang kurang baik sehingga membutuhkan adanya kegiatan pemindahan barang dari satu tempat ke tempat lainnya. Contoh sederhananya adalah tata letak gudang yang terlalu jauh dari produksi.

6. Waste of Motion (Gerakan).

Pemborosan yang terjadi karena adanya gerakan – gerakan pekerja maupun mesin yang tidak perlu dan tidak banyak memberikan nilai tambah terhadap produk tersebut. Contohnya adalah peletakan komponen yang jauh dari jangkauan operator, sehingga membutuhkan adanya gerakan melangkah yang lebih lama dari posisi kerjanya untuk mengambil komponen tersebut.

7. Waste of Waiting (Menunggu).

Pada saat seseorang atau mesin tidak melakukan pekerjaan, maka status tersebut disebut menunggu. Menunggu untuk bisa digunakan karena adanya proses yang tidak seimbang sehingga harus ada pekerja maupun mesin yang harus menunggu untuk melakukan pekerjaannya masing-masing. Adanya kerusakan mesin, supply bahan baku yang terlambat datang, hilangnya alat kerja maupun harus menunggu keputusan atau informasi tertentu dari atasan.

8. Waste of Overprocessing  (Proses yang berlebihan).

Tidak semua proses bisa memberikan nilai tambah bagi produk yang sedang diproduksi. Proses yang sama sekali tidak memberikan nilai tambah ini merupakan sebuah pemborosan atau proses yang terlalu berlebihan. Contoh sederhananya adalah: proses inspeksi yang terjadi berulang kali, proses persetujuan yang harus melewati banyak sekali level jabatan, proses pembersihan, dan lain sebgainya. Semua pelanggan menginginkan produk yang berkualitas, namun yang lebih penting adalah bukan berupa proses inspeksi yang terjadi selama berulang-ulang kali yang dibutuhkan, namun tentang bagaimana dalam menjamin kualitas dari produk pada saat proses pembuatannya.

Yang harus kita lakukan adalah untuk mencari Root Cause (akar penyebab) dari permasalahan dan segera ambil tindakan/counter-measure yang sesuai dengan akar penyebabnya tersebut.
Kunci utama dari penerapan Kepemimpinan Kaizen harus selalu mengutamakan kualitas dari produk dan layanan terhadap pelanggan. Perusahaan tidak akan mampu bersaing jika kualitas produk dan layanannya sama sekali tidak layak. Praktek untuk lebih mengutamakan kualitas memang membutuhkan adanya komitmen tim manajemen karena manajer seringkali harus berhadapan dengan berbagai macam godaan untuk membuat kompromi yang berhubungan dengan efisiensi/pemotongan biaya yang pada akhirnya harus mengorbankan kualitas.

Istilahnya adalah penghematan biaya bukan berarti harus diartikan sebagai pemotongan biaya, namun lebih mengacu kepada pengelolaan biaya. Pengelolaan atau manajemen biaya berarti adalah memantau proses pengembangan, produksi, dan penjualan produk maupun jasa layanan agar dapat menghasilkan kualitas produk yang terbaik, dan harus didampingi oleh upaya dalam mencapainya dengan biaya yang lebih rendah atau dengan biaya yang sesuai dengan target

Dalam menerapkan gaya Kaizen, perusahaan juga harus memiliki data internal yang cukup memadai.

Karena gaya Kaizen adalah sebuah proses untuk pemecahan masalah. Agar suatu masalah dapat  dipahami dengan benar dan dapat dipecahkan secepat mungkin, masalah itu harus terlebih dahulu diketahui dan kemudian data yang relevan harus dikumpulkan serta di analisis. Pemimpin yang mencoba untuk menyelesaikan permasalahan tanpa adanya data yang akurat adalah sebuah solusi dalam pemecahan masalah berdasarkan selera dan perasaan saja, suatu pendekatan yang tidak ilmiah dan sama sekali tidak objektif.

Jika perusahaan sudah mampu dalam menerapkan gaya Kepemimpinan Kaizen di dalam internal organisasinya, maka Evolutionary Innovation (Inovasi Evolusioner)  akan bisa terjadi dengan sendirinya. Tidak butuh biaya yang besar, dan resiko kegagalan akan menjadi lebih apabila dibandingkan jika kita harus menerapkan disruptive innovation (Inovasi yang sangat mengganggu)  yang hasilnya belum tentu kejelasannya.  Itulah sekilas penjelasan tentang konsep whitepaper berjudul tujuh pemborosan yang seringkali menyebabkan tingginya tingkat kegagalan dalam internal organisasi perusahaan, semoga bisa bermanfaat dan terimakasih. Salam sukses.

 

 

Groedu Academy E-Learning

City Of Tomorrow Mall, Jl. A Yani No. 288 (Bunderan Waru) Lantai UG, Blok US 23, No. 3 & 5, Surabaya.

Handphone : 0818521172 (XL)
081252982900 (Simpati)
Email : groedu@gmail.com/groedu_inti@hotmail.com