Tag Archives: pemasaran

21Aug/17

PENJELASAN FENOMENA KONSUMEN LEBIH MEMILIH UNTUK MEMBELI BARANG IMPOR DARIPADA BARANG LOKAL

Fenomena seperti mengapa para konsumen lebih memilih untuk membeli merek barang-barang impor (asing) daripada barang lokal seringkali terjadi di negara mana pun (bukan hanya di Indonesia saja), dan untuk kategori produk pun juga sama saja. Dalam persaingan bisnis global yang sudah memasuki pasar hampir dari setiap negara, kita akan menemukan adanya produk yang bermerek lokal atau merek asing.

Konsumen Lebih Cenderung untuk Memilih Merek Barang-Barang Import (Asing).

Sebelum konsumen akan memutuskan untuk membeli suatu produk, terdapat dua hal yang biasanya menjadi penentu utama dari keputusan pembelian konsumen tersebut, yaitu adanya persepsi konsumen terhadap kualitas dari produk dan faktor prestige dari produk tersebut. Baik untuk merek lokal maupun merek asing, kedua faktor tersebut masih tetap berlaku.

Namun khususnya bagi konsumen yang lebih cenderung untuk memilih merek-merek produk asing, sudah jelas bahwa mereka memiliki persepsi bahwa merek asing memiliki kualitas (Perceived Brand Quality/ Kualitas Merek yang Bisa Diterima) yang lebih baik daripada merek lokal, sekaligus sebagai Brand Prestige yang lebih tinggi daripada merek-merek lokal lainnya. Faktor kualitas yang dimaksudkan disini adalah selain kualitas dari produk itu sendiri, sudah termasuk juga service yang telah diberikan seperti halnya after sales service setelah produk terbeli.

Bagi produk merek asing, faktor harga yang lebih tinggi dan faktor kelangkaan malah bisa semakin meningkatkan kecenderungan para konsumen untuk lebih memburunya. Hal ini karena merek asing yang lebih sukar ditemukan dan berharga sangat mahal malah justru akan dipersepsikan oleh para konsumen sebagai sebuah produk yang lebih berkualitas dan memiliki prestige yang lebih tinggi. Namun selain dari kedua faktor (kualitas dan prestige) diatas, terdapat juga faktor Consumer Ethnocentrism yang bisa kita artikan sebagai seberapa besar rasa Nasionalisme dari para konsumen? Nasionalisme yang tinggi dari para konsumen akan bisa semakin mendorongnya untuk lebih memilih merek-merek lokal daripada keinginan pribadi untuk membeli merek-merek asing.

Dalam hal ini, merek lokal malah memiliki keunggulan yang lebih baik daripada merek-merek asing, yang mana merek lokal seringkali dipandang sebagai sebuah merek yang (lebih memahami) selera lokal daripada merek asing. Merek lokal dianggap semakin lebih (membumi) daripada merek asing, karena merek lokal akan lebih terhubung dengan tradisi dan budaya lokal. Konsumen bisa jadi memiliki ketertarikan yang lebih terhadap merek asing, namun karena mereka merasa lebih familiar dengan merek lokal serta karena merasa lebih bangga dengan memakai produk lokal, maka merekapun akan lebih cenderung untuk memilih produk lokal.

Pertanyaannya selanjutnya adalah, apakah rasa Nasionalisme dari konsumen kita sudah cukup tinggi sehingga mereka tetap bisa memilih merek lokal daripada merek asing? Pertanyaaan selanjutnya adalah, apakah kita sudah cukup hanya dengan mengandalkan rasa Nasionalisme saja agar merek-merek lokal bisa menjadi pemenang dalam bersaing dengan merek-merek asing? Tentu saja kita pun harus tetap memperhatikan juga dari faktor kualitas dan prestige dari merek lokal tersebut agar dapat bersaing dengan merek asing.

Satu hal lagi yang sudah memainkan peranan penting selain hanya persepsi terhadap kualitas dan prestige dari sebuah produk adalah efek dari adanya Country of Origin (Negara asal). Konsumen akan lebih cenderung untuk menyimpulkan bahwa persepsi dan opini mereka tentang produk yang berasal dari negara tertentu, berdasarkan dari pengalaman untuk menggunakan, pengetahuan tentang produk tersebut dan Negara asalnya, serta berbagai atribut dari produk yang biasanya lebih menonjol bagi mereka.

Inilah fenomena dimana jika seseorang ditanya apakah Anda ingin membeli sepatu? Maka orang mungkin akan langsung menyebut sebuah merek sepatu italia memiliki kualitas terbaik. Jika ingin membeli mobil hemat, maka orang akan langsung berpikir untuk membeli mobil merek Jepang. Ketika hendak memilih kopi yang ingin dinikmati, maka orang akan lebih cenderung untuk memilih merek kopi lokal dimana mereka sudah sangat familiar dengan rasanya yang khas dengan lidah lokal.

Country-of-Origin sudah jelas bisa sangat mempengaruhi keputusan para konsumen dalam membeli merek produk lokal atau ingin membeli merek produk asing. Country-of-Origin didefinisikan sebagai Negara asal dimana perusahaan atau kantor pusat untuk memasarkan produk tersebut dan Negara asal dimana produk tersebut telah diproduksi. Dalam hal ini suatu merek dari produk bisa menanamkan persepsi global kepada benak para konsumen di seluruh dunia tentang produknya sampai mampu tampil dengan lebih menonjol dalam dunia persaingan global.

Jadi dalam dunia persaingan global atau internasional sekarang dan masa mendatang, sangat penting artinya untuk lebih memperhatikan kualitas dari produk agar konsumen bisa mempunyai persepsi yang lebih bagus terhadap merek produk tersebut, serta untuk semakin meningkatkan prestige merek agar para konsumen semakin bangga pada saat memakainya. Faktor kebanggaan juga akan seamkin meningkatkan Nasionalismenya agar para konsumen semakin bangga dan menjadi lebih memilih merek lokal daripada merek asing. Selain itu sangat penting juga artinya untuk menciptakan ciri khas yang lebih menonjol dari suatu produk agar memiliki persepsi yang lebih kuat secara global. Hal ini bertujuan agar sebuah merek bisa menciptakan efek terbaik dari Country-of-Origin yang semakin positif.

 

Groedu Academy E-Learning

City Of Tomorrow Mall, Jl. A Yani No. 288 (Bunderan Waru) Lantai UG, Blok US 23, No. 3 & 5, Surabaya.

Handphone : 0818521172 (XL), 081252982900 (Simpati)
Office (only call no sms)  : 081-59417699
Email : groedu@gmail.com/groedu_inti@hotmail.com

18Aug/17

MARKETING: MEMAHAMI UNTUK MENGHADAPI PESAING-PESAING KUAT LAIN DI LUAR PESAING PRODUK

Sebenarnya siapa saja yang menjadi pesaing utama dari produk-produk yang kita jual? Misalnya apakah Djarum bersaing dengan Marlboro, Sampoerna dan Gudang Garam? (Sesama produk rokok) atau apakah Kacang Garuda harus bertarung mati-matian dengan Dua Kelinci (produk kacang kemasan) dan apakah XL harus berperang habis-habisan untuk melawan Smartfren(Operator seluler)? Inilah yang namanya persaingan yang dilihat dari produsennya. Lalu sekarang bagaimana menurut versi konsumen? Apakah konsumen hanya akan menghadapi situasi seperti itu? Sebenarnya terdapat lima macam kekuatan yang begitu besar mempengaruhi keputusan dari para konsumen untuk membeli.

1. Pesaing Produk Homogeny.

Seperti contoh, memang betul bahwa XL memiliki pesaing seperti Smartfren dan lain sebagainya. Persaingan jenis ini merupakan persaingan antar sesama produk yang juga sama-sama ingin memenuhi kebutuhan konsumen dengan cara yang begitu mirip. Para pesaing bertipe seperti ini disebut dengan (pesaing – produk homogeny). Dalam situasi persaingan yang begitu brutal, semua produk akan menawarkan manfaat yang sama. Dan hasilnya? Konsumen menjadi semakin bingung.

2. Persaingan – Produk Substitusi.

Michael Porter dari Harvard mengatakan bahwa, “Semua industri juga akan menghadapi yang namanya“persaingan – produk substitusi”, yaitu suatu produk yang menggantikan produk lain dalam melakukan satu atau beberapa fungsi tertentu bagi para pembeli. Jika merasa begitu haus Anda ingin meminum Coca-Cola. Rasa dahaga Anda juga masih bisa dipuaskan melalui minuman teh, air mineral, jus, susu, dan banyak lagi yangl ainnya.

3. Pesaing – Daya Beli.

Seorang pedagang kecil sedang menghadapi pilihan yang begitu sulit pada saat harus membelanjakan keuntungan yang sangat terbatas. Pilihannya adalah, apakah dia harus membeli pulsa telepon, sebungkus kacang, atau rokok. Persaingan yang juga dihadapi oleh konsumen dalam membuat pilihan yang berhubungan langsung dengan dana ini disebut dengan “pesaing – daya beli”. Semua lapisan masyarakat mengalami hal seperti ini. Konsumen yang memiliki daya beli yang sangat tinggipun akan membuat sebuah prioritas untuk pembelian mereka.

4. Pesaing – Keinginan.

Josephine, eksekutif dari manis sebuah perusahaan dari Jakarta, sudah lama bermimpi untuk memiliki sepatu Gucci. Suatu hari dia sedang berjalan-jalan di sebuah mall yang sangat bergengsi. Sepulangnya dari mall tersebut, tebak apa saja yang dia beli? Apakah sesuai keinginannya yaitu sepatu Gucci? Anda salah! Sebuah dompet merek Louis Vuitton (LV). Niatnya adalah untuk membeli sepatu, namun pada saat berkunjung ke mall malah membeli dompet merek Louis Vuitton (LV). Josephine yang semula memiliki rencana untuk membeli sepatu Gucci akhirnya malah tergoda untuk membeli dompet LV. Pesaing yang terdapat dalam hati emosional Josephine ini merupakan sebuah (pesaing – keinginan).

5. Pesaing – Persepsi.

Sekarang pada saat kita sedang menonton acara TV kesukaan kita contohnya adalah American Idol. Acara seperti ini telah disponsori oleh Coca-Cola, Ford, dan Cingular Wireless. Martin Lindstorm dalam eksperimen neuro marketing-nya senilai 7 juta dolar selama tiga tahun menemukan bahwa Coca-Cola akan menjadi lebih diingat jika dibandingkan dengan Cingular Wireless dan akan jauh lebih diingat jika dibandingkan dengan Ford.

Penyebabnya? Coke berperan secara integral dalam alur cerita American Idol. Di meja juri juga tersedia botol Coke. Simon Cowell berucap, ”Betapa cintanya saya kepada Coca-Cola.” Para juri duduk di kursi yang sudah didesainkan seperti botol Coke, warna ruangan peserta berwarna merah Coke. Coca-Cola begitu mendominasi acara seperti itu. Pesaing dalam hal berkomunikasi pemasaran yang telah dilakukan secara dominan dan serba terintegrasi untuk menciptakan persepsi konsumen biasa saya sebut (pesaing – persepsi).

Sekarang kita akan memahami bahwa di pihak konsumen sendiri terdapat lima kekuatan besar yang akan mempengaruhi pembelian mereka. Begitulah situasi yang sangat kompleks yang akan dihadapi oleh konsumen. Tugas seorang pemasar akan menjadi semakin berat dan dibutuhkan adanya pemikiran multidimensi. Anda harus sangat memahami tentangi pasar dengan lebih dalam melalui ethnographic research. Anda akan semakin dituntut layaknya untuk untuk selalu dapat hidup dan tidur bersama dengan para konsumen.

Banyak diantara perusahaan-perusahaan besar yang menempatkan “Psychology & Behavioral Economics” pada departemen pemasaran mereka. Tim Halloran dalam bukunya Romancing the Brand menyatakan bahwa brand manager harus mampu untuk menggambarkan psychographics konsumen seperti halnya sikapnya, kepercayaan, hobi, dan gairahnya. Untuk itulah, tipe pemasar seperti apa yang sangat dibutuhkan?

Daniel H. Pink menuliskan bahwa untuk sekarang adalah era konseptual pada saat pekerja semakin kreatif yang menggunakan otak kanannya menjadi sebuah motor penggerak utama. Riset oleh Goleman dan Hay Group menemukan bahwa seorang pemimpin yang paling ideal dan efektif adalah yang sanggup untuk bersikap humoris, dan humor sangat erat hubungannya dengan otak kanan manusia. Daniel berpendapat bahwa MFA (master of fine arts) adalah MBA yang baru. Unilever Inggris sampai harus mempekerjakan seorang pelukis, penyair, dan penulis buku komik untuk dapat memberikan inspirasi agar produknya dapat dengan mudah dicintai oleh pelanggan. Pemasar yang begitu angkuh yang lebih mengandalkan otak kirinya dengan berbagai rasio dan perhitungan secara matematis tidak akan pernah memahami bagaimana mimpi indah dari para konsumen. Guru marketing Seth Godin sangat setuju, “Instead of being scientists, the best marketers are artists.” Apakah itu Anda, atau mungkin saja bisa bukan?

 

 

Groedu Academy E-Learning

City Of Tomorrow Mall, Jl. A Yani No. 288 (Bunderan Waru) Lantai UG, Blok US 23, No. 3 & 5, Surabaya.

Handphone : 0818521172 (XL), 081252982900 (Simpati)
Office (only call no sms)  : 081-59417699
Email : groedu@gmail.com/groedu_inti@hotmail.com