17Jun/19

TREN PEMASARAN YANG AKAN BERPENGARUH DI TAHUN 2019

Bagaimana cara kita agar dapat menilai keputusan baru yang dibuat konsumen ketika tersedia berbagai informasi yang semakin kompleks?

Jika pertanyaan tersebut  selaras dengan perencanaan akhir tahun Anda, Anda tidak sendirian. Ini adalah salah satu tantangan terbesar yang tengah dihadapi marketer saat mereka bersiap untuk mengahadapi tahun baru.

Namun keutusan pelanggan bukan satu-satunya perubahan yang berdampak pada marketer. Ketika preferensi pelanggan, alat pemasaran seperti Facebook, dan teknologi baru berubah, bagaimana para marketer dapat mengikuti?

Tidak ada jawaban yang mutlak, berdasarakan pada referensi yang kami dapatkan. Kami akan membagikan kepada pembaca sekalian. Kami akan membahas beberapa tren yang sedang disiapkan oleh beberapa kelomp[ok pemasar, dan menguraikan beberapa strategi yang dapat membantu tim pemasaran Anda untuk menghadapi tahun baru 2019.

Berikut adalah pratinjau tren dan strategi pemasaran tersebut.

Keinginan Pelanggan yang terus berkembang

Kami telah mencari preferensi bagaimana pelanggan dan persepsi terhadap beberapa merek berkembang. Namun pda tahun 2018 juga melihat perubahan cara pelanggan untuk membeli, dan harapan yang dimiliki pelanggan di sepanjang proses untuk memustuskan pembelian.

Pencarian dan pembelian dari alat-alat seperti Alexa memberikan alasan penting yang masih diabaikan banyak merek. Sementara itu, perusahaan seperti Facebook mengevaluasi kembali data yang mereka berikan kepada vendor dan sponsor mereka, yang akhirnya mampu mengubah pemasaran media sosial dan strategi periklanan di seluruh dunia.

Pelanggan menginginkan kenyamanan, tetapi ada batas antara memberikan apa yang mereka inginkan dan kebutuhan personalisasi. Pemasar harus menjadi ahli dalam menangani pelanggan mereka.

Melenyapkan pencitraan tradisional

Karena preferensi pelanggan dan perilaku pembelian mereka terus menerus berubah, maka merek apa pun yang dianggap “Berbasis pelanggan” mereka pun juga akan ikut berubah. Ini artinya profil dari merek tersebut harus fleksibel, mengikuti kebutuhan pelanggan secara alami.

Cara pencitraan strategi yang digunakan oleh perusahaan perlu diubah, terutama bagi pemasar. Sudah saatnya untuk menempatkan pencitraan yang secara inheren dapat berubah-ubah.

CSR yang proaktif dan nilai-nilai merek

Kini, Pembeli yang digerakkan oleh keyakinan mayoritas konsumen. Hal ini berarti bahwa, jika mereka belum melakukan pembelian, sebuah merek perlu menyediakan nilai-nilai perusahaan dan memutuskan nilai tambah yang seperti  apa yang ingin mereka ambil pendirian.

Sementara risiko mengasingkan beberapa pelanggan akan selalu ada, perusahaan yang berhasil menggaungkan dengan nilai-nilai konsumen memiliki peluang untuk memperdalam hubungan merek pelanggan pada tingkat emosional.

Manajemen krisis mempengaruhi semua orang

Saat media online dan informasi yang mudah diakses meledak dalam beberapa tahun terakhir, merek dan konsumen lebih mudah terhubung daripada sebelumnya.

Merek dari sebuah perusahaan memiliki peluang untuk beriklan di hampir setiap situs web dan platform yang digunakan konsumen secara online. Namun di sisi lain, siklus berita 24 jam ditambah dengan pelanggan yang lebih berpendidikan telah memberikan pandangan unik tentang merek kepada publik.

Khususnya di zaman ini dimana merek – sengaja atau tidak sengaja – terjebak dalam kontroversi politik atau masalah sosial terpolarisasi, tidak ada perusahaan yang aman dari reputasi atau krisis merek.

Lebih banyak janji teknologi

Kepercayaan, khususnya kepercayaan pada alat pemasaran, adalah tema dalam banyak perbincangan yang kami dapatkan. Lanskap teknologi pemasaran (martech) sangat besar, gerakannya cepat dan dinamis.

Pertumbuhan alat yang dinamis ini telah menyebabkan masuknya peluang teknis baru bagi marketer, serta beberapa kata kunci baru yang belum benar-benar terbukti.

Terima kasih telah berkunjung ke website kami, itulah sedikit penjelasan mengenai tren pemasaran yang akan berpengaruh di tahun 2019. Apabila pembaca membutuhkan konsultasi manajemen, membutuhkan pembenahan Standar Operational Procedure (SOP) marketing dan butuh Software penjualan pembaca dapat menghubungi groedu@gmail.com atau kontak  081-252-982900 / 081-8521172. Kami siap membantu anda.

25Apr/19

TIPS-TIPS DALAM MENJALANKAN DAN MENGELOLA STRATEGI PERMINTAAN PARA KONSUMEN

TIPS-TIPS DALAM MENJALANKAN DAN MENGELOLA STRATEGI PERMINTAAN PARA KONSUMEN

Dalam merancang strategi untuk mengelola permintaan dari para konsumen memang sangatlah riskan sekali, karena itu berkaitan langsung dengan baik atau buruknya tentang kondisi Supply Chain perusahaan Anda. Supply Chain sendiri merupakan sebuah representasi jaringan atau sebagai perputaran rantai yang bertujuan untuk membentuk hubungan antara supplier, produsen, distributor, agen agar bisa sampai kepada konsumen akhir.

Satu fenomena yang terpopuler dan berhubungan langsung dengan Supply Chain ini adalah The Bullwhip Effect. The Bullwhip Effect merupakan sebuah fenomena di mana ketika terjadi proses fluktuasi terkecil pada sejumlah permintaan pada tingkat pasar ritel akan menjadi semakin mengakibatkan terjadinya fluktuasi terbesar pada sejumlah permintaan di tingkat grosir, supplier, produsen, dan juga dari pihak distributor.

Dalam memahami fenomena The Bullwhip Effect, ini akan dijelaskan melalui contoh kasus singkat berikut ini. Sebuah toko ritel telah menyimpan stok minuman per harinya adalah 100 botol dan biasanya penjualan per harinya bisa mencapai 20 botol. Namun, ketika permintaan terhadap produk tersebut menjadi semakin naik. Sehingga penjualannya juga ikut naik menjadi 70 botol. Sehingga pihak toko akan memesan ulang kepada pihak distributor sebanyak 110 botol untuk mencapai stok yang aman. Mengetahui tentang hal ini, maka pihak distributor langsung meresponnya dengan menggandakan pesanannya kepada pihak produsen sebanyak 220 botol agar mereka tidak sampai kehabisan stok juga ketika toko ritel Anda mulai memesan. Maka produsenpun juga memproduksi minuman tersebut sebanyak 270 botol untuk mencapai tingkat stok yang lebih aman.

Hal ini merupakan sebuah penjabaran yang lebih singkat tentang bagaimana The Bullwhip Effect akan sangat berdampak pada Supply Chain. Dan implikasinya adalah Kelebihan persediaan yang cukup berpotensi untuk menyebabkan barang-barang tersebut menjadi terbuang sia-sia, sedangkan kekurangan persediaan yang akan menyebabkan semakin menurunnya customer experience, sehingga permintaan juga akan ikut semakin menurun.

Menggunakan strategi safety stock atau upaya untuk menyimpan persediaan pada jumlah yang dirasa cukup aman bukanlah sebuah solusi terbaik. Karena itu hanya akan mengakibatkan terjadinya “gali lubang tutup lubang” belaka. Berikut ini adalah cara yang paling tepat untuk mengatasi terjadinya efek negatif dari The Bullwhip Effect dan mengefektifkan strategi untuk mengelola permintaan.

1. Memastikan bahwa segala prosesnya dapat berjalan dengan benar.

Perencanaan atas beberapa permintaan dari para konsumen merupakan bagian terpenting dari proses penjualan dan juga perencanaan operasional. Bukan dari suatu proses yang berdiri sendiri (Stand Alone). Buatlah perencanaan bisnis yang bertujuan untuk mengintegrasikan berbagai aktivitas lintas-perusahaan dan mendorong kemajuan potensi bisnis untuk ke depan dalam memenuhi permintaan pelanggan dengan lebih baik.

2. Menentukan standar seperti yang dibutuhkan untuk mengelola permintaan.

Beberapa perusahaan yang telah menganalisis dan mengategorikan berbagai permintaan konsumen atas dasar dari jenis produk, tipe pelanggan atau dari daerah geografis. Membuat cara atau suatu strategi yang lebih unik dalam memprediksi dan merencanakan permintaan-permintaan dari para konsumen. Dan bersiaplah untuk mengubah tentang cara Anda dalam merencanakan dan memprediksikan permintaan dari para konsumen yang sesuai dengan berbagai macam perubahan-perubahan yang lebih bersifat “eksternal” perusahaan.

3. Melakukan proses kolaboratif, bukan berupa pengujian algoritma statistik.

Statistik memang dipandang lebih mampu dalam memberikan pondasi yang lebih kuat untuk strategi mengelola Permintaan dari Anda. Akan tetapi nilai yang memang sebenarnya berasal dari pengetahuan dan pengalaman lapangan yang tidak mungkin akan dikerjakan oleh suatu sistem. Maka upayakan untuk menggunakan intuisi Anda dan dekatkan diri Anda kepada sumber-sumber permintaan (pelanggan) agar bisa mendapatkan prediksi yang jauh lebih baik.

4. Jangan terlalu bergantung dengan “Ramalan” atau berupa prediksi secara keseluruhan.

Peramalan atau yang biasa disebut dengan forecasting (prediksi) merupakan komponen dari strategi mengelola mengelola permintaan dan berkaitan langsung dengan berbagai pertimbangan terbaik Anda untuk menakar permintaan yang nantinya akan terjadi di masa yang akan datang. Alih-alih bergantung dengan hasil prediksi atau “ramalan” secara penuh, perusahaan yang memang lebih unggul dalam bidang ini akan “menantang” prediksi dan untuk mencari peluang terbaru dalam mempengaruhi permintaan melalui berbagai upaya pemasaran dan promosi untuk membawa suatu prediksi yang lebih sesuai dengan rencana dari bisnis Anda.

5. Mengatur Standar Operasional Prosedur (SOP) agar menjadi lebih mudah untuk dinilai & dievaluasi.

Letakkan serangkaian SOP utama secara lebih tepat dan ukur secara teratur. Hal ini juga akan menjadikan Anda mampu mengetahui secara lebih cepat jika terjadi suatu masalah pada titik Supply Chain tertentu dan bisa segera langsung dievaluasi. Dengan cara begitu maka Anda akan dapat menjalankan strategi pengelolaan permintaan konsumen dengan lebih tepat.

6. Bersihkan dan rapikan data-data penyimpanan yang terkait dengan pengelolaan seputar permintaan.

Strategi untuk mengelola permintaan yang berkaitan langsung dengan sejumlah besar data-data, sehingga masih diperlukan adanya sebuah upaya untuk menjaga agar data-data tersebut masih tetap tersimpan secara lebih rapi dan bersih. Jangan sampai setiap detail terkecil ini sampai Anda abaikan karena jika sampai terabaikan, maka hal ini sudah Anda anggap terlalu kecil dan sagnat sepele hal ini akan menjadi masalah besar dikemudian hari. Sebagai salah satu contoh, jika data-data yang terkait dengan urusan pengelolaan permintaan Anda tidak tertata dengan rapi, maka Anda sendirilah yang akan merasa kesulitan untuk mencari data-data khusus yang masih diperlukan dalam waktu secepatnya untuk suatu pengambilan keputusan yang lebih tepat.

7. Jadikan kesalahan prediksi untuk tujuan feedback yang lebih positif.

Perkiraan statistik yang lebih baik akan memiliki tingkat kesalahan atau error yang tidak terlalu berpengaruh besar kepada strategi untuk mengelola permintaan Anda dan malah akan semakin mendukung adanya sebuah pencapaian dalam target penyimpanan stok persediaan yang terbilang aman. Hal ini juga akan semakin mengarahkan manajemen persediaan yang lebih baik dan memberikan layanan yang juga semakin baik.

8. Gunakan solusi terbaik untuk permasalahan strategi yang tepat.

Sebuah studi yang menunjukkan bahwa perusahaan yang lebih unggul dalam hal pengelolaan permintaan yang melaporkan tingkat akurasi peramalan yang jauh lebih tinggi dan jumlah persediaan yang semakin lebih rendah akan semakin meningkatkan dua setengah kali lipat lebih baik dalam hal menerapkan strategi pengelolaan permintaan yang lebih matang.

Itulah beberapa cara yang mungkin masih bisa Anda terapkan agar strategi dalam mengelola permintaan pelanggan yang Anda lakukan harus bisa berjalan secara lebih efektif dan efisien. Jika segala permasalahan yang terkait dengan supply chain sudah bisa teratasi, maka Anda hanya perlu untuk memikirkan tentang bagaimana cara yang paling tepat agar semua transaksi penjualan maupun pembelian Anda bisa tercatat dengan lebih baik dan benar. Jika Anda lebih tertarik untuk strategi-strategi pemasaran atau pelatihan lain, Anda dapat menghubungi kami melalui WhatsApp 0812-5298-2900 atau email ke groedu@gmail.com. Kami menunggu kabar gembira dari Anda semua. Selamat mencoba dan semoga sukses.