15Jul/15

MENGELOLA SDM DALAM MENJALANKAN E-LEARNING

Berbicara SDM dalam dunia E-learning, hampir sama dengan membicarakan ikan dalam dunia perikanan, membicarakan pohon dalam dunia kehutanan, membicarakan siswa dalam dunia pendidikan, atau membicarakan kendaraan dalam dunia otomotif.

SDM yang dimaksud di sini bukanlah Share Decision Making, System Design and Management, atau Security Ditribution and Marketing. SDM yang dimaksud di sini adalah Sumber Daya Manusia, atau dikenal juga dengan nama Human Resources.

Semua SDM di manapun dituntut untuk selalu melakukan upgrading (peningkatan) guna memenuhi kebutuhan yang terus berkembang sesuai dengan perkembangan jaman. Untuk itu, setiap pengelolaan SDM di manapun, membutuhkan manajemen yang baik agar semua SDM bisa terarahkan dengan baik pula, sehingga SDM yang ada bisa diberdayakan dengan optimal.

Pemberdayaan SDM dalam manajemen SDM merupakan proses, tindakan dan strategi manajemen yang mendorong setiap individu agar mengalami proses pertumbuhan dan pengembangan kemampuan secara lebih tangguh dan mandiri.

Manajemen SDM -dalam sebuah perusahaan/institusi- bertanggungjawab memfasilitasi pemberdayaan SDM itu melalui penciptaan lingkungan yang kondusif, agar dapat membantu setiap individu untuk dapat bertumbuh-kembang secara maksimal dalam hal profesionalisme dan kompetensi hidup (baca: life skill)nya. Manajemen SDM akan mengatur dan memposisikan setiap SDM sesuai dengan keahliannya, sekaligus mengatur pemberdayaan SDM yang ada.

Dalam dunia e-learning, SDM merupakan faktor yang sangat vital dalam implementasi e-learning. Mengapa demikian? Karena e-learning muncul justru untuk meningkatkan kualitas SDM, baik itu di perusahaan, instansi, institusi/dunia pendidikan, maupun di dalam kehidupan bermasyarakat. Oleh karena itu SDM yang ada perlu dipersiapkan dengan sebaik-baiknya sebelum e-learning dijalankan.

SDM suatu perusahaan/institusi harus mempunyai pola pikir yang menyatakan bahwa e-learning menjadi kebutuhan perusahaan/institusi untuk mencapai visi dan misi perusahaan/institusi itu sendiri, sehingga e-learning harus dilakukan. Cara pandang ini tentunya membawa konsekuensi dan menuntut adanya perubahan, diantaranya adalah perubahan budaya kerja di perusahaan/institusi tersebut. Dalam hal ini manajemen SDM sebagai pengelola SDM yang ada tentunya akan membuat kebijakan-kebijakan yang sesuai dengan kebutuhan untuk menjalankan e-learning di perusahaan/institusi tersebut.

Sudah cukup jelas bahwa untuk menjalankan e-learning, kompetensi manajemen SDM dan juga para pengelola e-learning perlu dipersiapkan dengan sebaik-baiknya. Kompetensi itu meliputi kompetensi pengelolaan konten, kompetensi untuk pengelolaan pembelajaran, dan kompetensi untuk pengelolaan pelaksanaan e-learning itu sendiri. Dengan dikuasainya semua kompetensi di atas, maka dapat dipastikan e-learning yang dijalankan akan terlaksana dan tersampaikan dengan baik. (Dian Sukmawan)

 

15Jul/15

STRATEGY MEMBUAT PERENCANAAN PEMBELAJARAN DALAM E-LEARNING

Hidup adalah skenario besar yang sudah dituliskan dan tinggal dijalani. Bahkan dalam skenario hidup pun ada improvisasi-improvisasi yang diperbolehkan untuk dilakukan. Lalu bagaimana dengan dunia pendidikan dan dunia e-learning? Seberapa pentingkah sebuah skenario pembelajaran dalam dunia tersebut?

Saat menyusun sebuah materi e-learning, seorang Desainer Instruksional akan menelaah materi dan menyusun kerangka awal dari materi tersebut. Dalam hal ini, Dia akan merancang tahapan pemberian materi, materi mana dulu yang akan disampaikan, dan cara apa yang pas untuk menyampaikan materi tersebut. Setelah semuanya tersusun, maka proses selanjutnya bukan langsung membuat materi e-learning tersebut, akan tetapi menjabarkan proses penyampaian materi dan penyusunan materi tersebut dalam sebuah “skenario pembelajaran”.

Proses setelah pembentukan desain instruksional pada bahan e-learning biasanya adalah pembuatan storyline dan dilanjutkan dengan storyboard. Storyline adalah penjabaran desain instruksional yang sudah lebih terperinci dan terrunut dari bagian awal hingga bagian akhir. Storyline memuat semua langkah-langkah penyusunan materi e-learning dari mulai pembukaan hingga penutupan. Setelah semuanya tersusun, maka proses dilanjutkan ke bagian storyboard.

Storyboard adalah bentukan lebih rinci dari storyline. Jika di storyline semua bahan masih berupa tulisan, maka di storyboard semua bahan sudah berupa tulisan dan gambar. Gambar yang ada di storyboard adalah gambaran kasar penggambaran materi yang nanti akan muncul dalam modul e-learning.

Tahapan-tahapan persiapan e-learning di atas sering Penulis sebut “sama dengan” proses penyusunan skenario pembelajaran dan proses perencanaan pembelajaran. Semua tahapan itu juga dilakukan dalam mempersiapkan bahan ajar biasa (bahan ajar yang bukan modul e-learning). Kenapa harus dipersiapkan? Karena proses pembelajaran yang baik berawal dari perencanaan yang baik.

Sebuah film yang bagus dinilai karena semua persiapannya matang, mulai dari pemilihan tema yang bagus, pengumpulan materi yang padat, penyusunan skenario yang matang, penyutradaraan yang baik, dan pelaksanaan produksi yang profesional. Jika film itu kita analogikan sebagai pendidikan, maka sudah sepantasnya tahap perencanaan pembelajaran dipersiapkan seperti layaknya kita ingin mempersiapkan film yang bagus. Karena film yang bagus akan diingat orang terus menerus. Rasanya kita sudah sangat kangen dengan pembelajaran yang bisa diingat orang terus menerus juga kan? (Dian Sukmawan)