15Jul/15

SUDAH SAATNYA PASARKAN E-LEARNING LEWAT DIGITAL MARKETING

Pemasaran Digital adalah suatu usaha untuk mempromosikan sebuah merek dengan menggunakan media digital yang dapat menjangkau konsumen secara tepat waktu, pribadi, dan relevan.

Tipe pemasaran digital mencakup banyak teknik dan praktik yang terkandung dalam kategori pemasaran internet. Dengan adanya ketergantungan pemasaran tanpa internet, membuat bidang pemasaran digital menggabungkan elemen utama lainnya seperti ponsel, SMS (pesan teks dikirim melalui ponsel), menampilkan iklan spanduk, dan digital luar.

Pemasaran digital turut menggabungkan faktor psikologis, humanis, antropologi, dan teknologi yang akan menjadi media baru dengan kapasitas besar, interaktif, dan multimedia. Hasil dari era baru berupa interaksi antara produsen, perantara pasar, dan konsumen. Pemasaran melalui digital sedang diperluas untuk mendukung pelayanan perusahaan dan keterlibatan dari konsumen.

Dengan digital marketing, setidaknya 9 langkah untuk memasarkan e-learning di bawah ini bisa dengan mudah diterapkan. 9 langkah ini diambil atau diadaptasi dari meode SHIFT yang dikembangkan oleh para ahli e-learning dari Amerika Utara, dan dikhususkan untuk para Penggiat e-learning yang memang sedianya berperan sebagai penentu kebijakan untuk pengembangan e-learning. Apakah 9 langkah itu? Berikut ini adalah uraiannya.

  1. Tentukan Tujuan. Hal pertama yang harus selalu dilakukan adalah menentukan tujuan. Kenapa? Karena Kita butuh tujuan untuk menentukan langkah-langkah kerja Kita. Dalam hal pengembangan dan pemasaran e-learning, maka tujuan utama yang harusnya menjadi dasar pengembangan e-learning Kita haruslah jelas, terukur, dapat dicapai, realistis, dan memiliki timeline yang jelas.
  2. Pelajari“Pembeli”Ingat dengan istilah “Pembeli adalah Raja”? Istilah ini tentulah bukan tanpa alasan. Dengan adanya istilah ini, cukup menjadi acuan bagi kita untuk mengenal dan mempelajari pembeli. Dengan mempelajari siapa “pembeli” Kita, setidaknya Kita akan tahu tentang kemauan mereka seperti apa, kemampuannya bagaimana, dan adakah kesempatan untuk menerapkan e-elarning kepada mereka.
  3. Branding(Merk). Setelah 2 langkah diatas dilakukan, maka saatnya melakukan pembuatan merk. Yang perlu diperhatikan saat membuat brand adalah perencanaan ikonnya seperti apa, trik menarik perhatiannya mau bagaimana, apa yang menjadi ketertarikan pengguna, apa keinginan pengguna. Baru setelah semua teramu, susunlah brand yang sesuai.
  4. Sangat penting untuk memberikan perhatian lebih dalam hal mengidentifikasi apa ketakutan pengguna, masalah mereka, hambatan, dan apa kelemahan mereka. Menganalisis data ini dalam konteks proyek Kita dan ini akan membuat lebih mudah bagi pengguna Kita untuk menemukan program yang menarik bagi mereka.
  5. Menentukan pesan yang ingin Kita sampaikan dengan jelas dan singkat. Perhatikan bahwa manusia adalah makhluk selektif, oleh karena itu perlu untuk menarik minat pengguna Kita dengan cepat. Batasi strategi Kita dengan cara yang menyoroti hal-hal pokok, dan kemudian menghubungkannya ke titik lemah yang Kita temukan pada Pengguna. Misalnya, jika Kita menemukan bahwa Pengguna Kita takut dan tidak nyaman menggunakan komputer secara teratur, maka hal ini harus segera kita perbaiki bersama.
  6. Pelajari apa saja keinginan Pengguna. Hal ini dimaksudkan agar e-learning yang Kita susun tepat guna dan sesuai dengan apa yang diinginkan oleh Pengguna Kita.
  7. Membuat informasi yang dapat diakses dan mudah untuk ditemukan. Semakin banyak orang tahu tentang proyek dan manfaatnya, semakin mereka akan tertarik. Dalam hal aksi ini, perhatikan kenyamanan dan keterlibatan Pengguna. Tentunya agar Pengguna merasa bahwa e-learning Kita memang sesuai dengan mereka.
  8. Apa media yang paling efektif untuk memulai promosi? Carilah yang memang efisiensinya sudah sesuai. Beberapa media yang bisa anda pertimbangkan antara lain surat kabar, poster interaktif, email, banner, seminar, media sosial, bahkan jika diperlukan Kita bsia mengundang perwakilan dari Departemen Pelatihan untuk pertemuan dengan karyawan.
  9. Pengembangan e-learning haruslah disertai dengan konsistensi yang kuat. Kenapa? Karena pekerjaan e-learning bukan hanya sampai pada titik e-learning itu diterima. Itu baru awalnya saja. Setelah itu, teruslah berkonsisten untuk mengembangkan, mempelajari, bahkan terus berusaha memenuhi keinginan pengguna.

Jika semua hal ini sudah bisa diterapkan, dan pemahaman tentang digital marketing sudah bisa kita jalankan, maka bukan tidak mungkin e-learning akan menjadi booming yang memang bisa menguasai “pasar” pendidikan dalam segala lini. Mari berusaha sampai ke sana. (Dian Sukmawan)

 

 

15Jul/15

SAMPAI KAPAN KITA MENANTI PERCEPATAN REGULASI E-LEARNING ?

Pada saat ini perkembangan teknologi bergerak tanpa henti. Kemajuan terus semakin menjadi. Perkembangan zaman tak akan bisa dihindari. Dan saat ini, teknologi, kemajuan, dan perkembangan itu sendiri telah menyentuh semua sendi.

Berpuluh-puluh tahun setelah kemunculan e-learning, rasanya perkembangannya sudah luar biasa, namun kemajuannnya masih jauh dari harapan. Jika dianalogikan dengan manusia, kemajuan e-learning masih dalam tahap “merangkak”, dan masih berusaha untuk “berdiri”, baru kemudian “melangkah”. Kenapa ini bisa terjadi? Bukankah teknologi terus berkembang? Bukankah e-learning itu sendiri adalah sebuah produk dari perkembangan teknologi? Lalu kenapa perkembangan e-learning tak berbanding lurus dengan perkembangan teknologi itu sendiri?

Jika kita melihat perkembangan teknologi, dalam hal ini teknologi informasi dan komunikasi, rasanya perkembanganya sudah sangat pesat dan jauh dari apa yang pernah dibayangkan. Internet, sebagai perkembangan dari teknologi komunikasi dan informasi, adalah sesuatu yang baru, namun mampu berkembang dengan sangat cepat. Dan hasil dari internet adalah munculnya e-learning, sebuah pembelajaran yang menggabungkan metode pembelajaran dengan kemudahan koneksi dari internet sehingga bisa diakses dimanapun dan kapanpun. Jika kita tarik garis lurus, seharusnya e-learning bisa berkembang sama pesatnya dengan perkembangan internet. Namun mengapa kenyataanya tidak demikian?

Sebuah studi yang mempelajari tentang hal ini (pelannya perkembangan e-learning dibanding internet itu sendiri), mengemukakan bahwa e-learning kurang maju karena belum adanya regulasi yang kuat untuk mendorong pertumbuhannya. Sebagai contoh, salah satu regulasi yang masih dinanti-nanti adalah regulasi dari Pemerintah pusat untuk mendorong semua lini pendidikan menggunakan e-learning dalam pembelajaran. Pemerintah diharapkan berperan aktif untuk memajukan e-learning. Pada kenyataannya, Pemerintah terkesan masih “belum mudeng” dengan perkembangan ini. Dinas Pendidikan yang diharapkan “lebih melek” dengan penerapan e-learning, nyatanya masih belum bisa mendongkrak pertumbuhan e-learning. Padahal jika melihat potensi dan kompetensi perkembangan teknologi informasi kita, harusnya e-learning bisa jauh lebih maju daripada saat ini.

Kami yakin saat ini para pemerhati pendidikan sudah mulai mencoba untuk bisa “memasarkan” e-learning hingga ke semua lini. Apalagi jika melihat pesatnya perubahan yang terjadi dalam dunia komunikasi dan informasi, tentu ini menjadi sebuah dorongan besar agar e-learning juga bisa ikut maju dan berkembang dalam perubahan tersebut.

Bayangkan jika semua peserta didik (baca= masyarakat) bisa mengakses berbagai macam ilmu pengetahuan dimanapun dan kapanpun. Bayangkan jika ilmu pengetahuan bisa diakses dengan mudah melalui gadget yang dimiliki. Tentunya program pengentasan buta huruf, program penyebaran ilmu pengetahuan, dan program-program lain yang bertujuan untuk meningkatkan taraf pendidikan setiap individu di negara ini, bisa lebih cepat diterapkan.

Negara Kita ini adalah negara kepulauan. Kendala jarak yang terpisah karena adanya batas lautan antar setiap pulau bisa kita atasi dengan e-learning ini. Jika pendidikan saat ini terpusat di pulau Jawa, maka dengan e-learning, pendidikan bisa diakses dengan lebih mudah dari ujung Sumatera hingga ke ujung Papua. Dengan demikian, kendala jarak dan waktu sudah bisa teratasi, bukan?

Maka di sinilah Kita bisa melihat prospek pengembangan e-learning di masa depan. Celahnya masih sangat banyak. Jalannya masih terbuka lebar. Jika para penggiat e-learning terus dan terus mencoba mengembangkan dan memperbaiki e-learning agar lebih mudah diterima oleh masyarakat, maka bukan tidak mungkin regulasi itu bisa didapatkan, dan e-learning pun bisa berkembang lebih pesat lagi. (Dian Sukmawan)