Category Archives: Artikel

20Nov/17

SEBENARNYA SIAPA SAJA YANG BERHAK UNTUK MENGGUNAKAN INFORMASI AKUNTANSI PERUSAHAAN?

Pihak Yang Harus Menggunakan Informasi Akuntansi

Informasi akuntansi sangat penting untuk digunakan dalam mengetahui kondisi keuangan dari suatu perusahaan atau organisasi. Salah satu informasi akuntansi yang sangat dibutuhkan dan begitu penting adalah berupa laporan keuangan. Setidaknya terdapat dua pihak yang membutuhkan adanya laporan tersebut, pihak internal dan eksternal. Pihak internal adalah para pihak yang terus berada dalam perusahaan itu sendiri seperti manajer, direktur, serta tenaga kerja dari perusahaan itu sendiri.

Sedangkan pihak eksternal adalah meliputi pemilik perusahaan, kreditur, dan pemerintahan yang mana perusahaan itu berdiri.

• Pihak Internal

Pihak-pihak internal dan eksternal dari perusahaan membutuhkan laporan keuangan tersebut untuk kepentingan:

1. Manajer Perusahaan.

Manajer merupakan orang kepercayaan pemilik perusahaan yang diberi tanggungjawab dalam mengelola jalannya usaha. Bagi manajer, laporan keuangan perusahaan merupakan bentuk pertanggungjawaban mereka terhadap pihak eksternal, selain itu laporan keuangan juga akan digunakan sebagai dasar utama dalam hal pengambilan keputusan.

2. Pemilik Perusahaan.

Pemilik perusahaan bisa seseorang, beberapa orang atau bahkan organisasi yang memiliki saham atau bukti kepemilikan terhadap perusahaan. Owner atau pemilik perusahaan membutuhkan adanya laporan keuangan untuk mengetahui tentang bagaimana kondisi keuangan serta prospek dari usaha di masa yang akan datang. Laporan keuangan tersebut akan digunakan sebagai bahan untuk mempertimbangkan apakah kepemilikannya dalam perusahaan akan tetap dipertahankan atau harus dilepaskan. Sedangkan bagi para calon pemilik perusahaan, laporan keuangan akan berfungsi sebagai dasar acuan dalam menentukan apakah ia akan dapat menanamkan modalnya di perusahaan tersebut atau tidak.

3. Tenaga Kerja/Karyawan.

Tenaga kerja dalam sebuah perusahaan, baik itu adalah karyawan atau buruh berhak untuk mendapatkan penghasilan, tunjangan kesehatan, dan lain sebagainya dari tempat mereka bekerja. Biasanya mereka akan tergabung dalam anggota serikat pekerja yang akan memperjuangkan hak-hak karyawan, seperti jaminan sosial atau kenaikan penghasilan. Dalam hal ini laporan keuangan perusahaan bisa digunakan oleh serikat pekerja dalam menilai kemampuan membayar (solvabilitas) perusahaan. Apabila laporan keuangan perusahaan telah menunjukkan adanya peningkatan laba yang begitu signifikan maka pekerja berhak untuk mendapatkan kenaikan penghasilan. Namun, apabila kondisi keuangan perusahaan sedang lemah, maka pekerja harus memahami apabila perusahaan melakukan efisiensi terhadap mereka.

• Pihak External.

1. Pihak Kreditur.

Dalam melakukan pinjaman modal, pihak perbankan merupakan langkah yang harus dilakukan oleh pengusaha dalam rangka agar dapat semakin memperbesar usahanya. Untuk itulah biasanya pihak kreditur akan menggunakan informasi akuntansi untuk menentukan apakah perusahaan tersebut mampu membayar pinjaman sesuai ketentuan atau tidak. Biasanya kreditor tidak akan memberikan pinjaman modal apabila laporan keuangan perusahaan menunjukkan hal-hal yang negatif. Bagi kreditur atau perbankan, laporan keuangan akan digunakan sebagai dasar referensi untuk menilai resiko yang mungkin saja bisa dihadapi sebelum akan memutuskan untuk memberikan pinjaman.

2. Pihak Pemerintah.

Sebagai salah satu pihak eksternal yang membutuhkan adanya informasi keuangan dari sebuah organisasi yang mana perusahaan tersebut berdiri. Informasi akuntansi ini meman sangat dibutuhkan karena setiap perusahaan yang telah lama beropersasi di dalam wilayahnya merupakan sebagai wajib pajak yang harus membayar pajak terhadap pemerintah. Kantor pajak yang berkepentingan untuk memeriksa kebenaran dari jumlah pajak yang akan dilaporkan oleh perusahaan.

 

 

 

Groedu Academy E-Learning

City Of Tomorrow Mall, Jl. A Yani No. 288 (Bunderan Waru) Lantai UG, Blok US 23, No. 3 & 5, Surabaya.

Handphone : 0818521172 (XL), 081252982900 (Simpati)
Office (only call no sms)  : 0811-3444-910
Email : groedu@gmail.com/groedu_inti@hotmail.com

 

 

07Nov/17

MENGATASI PERMASALAHAN MARKETING LEBIH PENTING MANA ANTARA PROBLEM SOLVING ATAU PROBLEM FRAMING?

Percakapan antara seorang sales engineer dari sebuah perusahaan pelumas dengan kliennya tentang permintaan jenis pelumas terbaru. Sales engineer berkata: “Saya dapat permintaan dari Bapak tentang pelumas baru, apakah benar?”

Klien: “Iya , memang betul, kami akan membuat produk baru. Namun karena mesin kami tidak dirancang untuk membuat produk baru tersebut, jadinya kami perlu pelumas yang lebih handal untuk mesin kami.”

Sales engineer: “Mengapa perusahaan Bapak tidak membeli mesin yang hanya khusus untuk produk baru tersebut?”

Klien: “Karena sampai saat ini tidak ada produsen yang bisa membuat mesin yang benar-benar sesuai untuk produk baru kami tersebut.”

Dari pembicaraan tersebut dapat disimpulkan bahwa: akar dari permasalahan sebenarnya, apakah perusahaan perlu dan membutuhkan pelumas jenis baru ATAU perusahaan yang perlu cara baru untuk membuat produk baru?

PREVIEW-problem-solving-techniques-624x426Dalam praktek sebenarnya dan tentang literatur manajemen, kemampuan untuk memecahkan permasalahan (problem solving) telah lama diakui sebagai sebuah karakteristik terpenting yang berperan aktif bagi kesuksesan dari seorang manajer atau seorang pemimpin perusahaan. Berbagai modul-modul pelatihan telah dirancang secara khusus hanya untuk melatih kemampuan para manajer dan pemimpin bisnis agar bisa memiliki kemampuan dalam memecahkan permasalahan, dan diharapkan juga untuk solusi dari permasalahan tersebut agar bisa menjadi sumber dari lahirnya ide-ide dan inovasi terbaru.

Karena begitu pentingnya kemampuan dalam memecahkan permasalahan tersebut, maka banyak orang yang mengabaikan satu aspek lagi yang juga tidak kalah pentingnya (bahkan pada beberapa konteks menjadi jauh lebih penting) dari pemecahan masalah, yaitu kemampuan dalam perumusan masalah (problem framing). Perumusan masalah yang lebih menekankan tentang betapa pentingnya di awal untuk mendefinisikan secara lebih jelas tentang permasalahan yang sebenarnya ingin dipecahkan, sebelum semuanya terjun dan berupaya untuk mencari solusi dari permasalahan tersebut.

Dalam artikelnya di MIT Sloan Management Review edisi Summer 2016, Albrecht Enders dan tim telah menunjukkan hasil risetnya terhadap lebih dari 250 manajer senior perusahaan multinasional dalam kurun waktu antara tahun 2013-2015. Para manajer ini sebenarnya berasal dari Australia, Brasil, UEA, Finlandia, Jerman, Hong Kong, Jepang, Afrika Selatan, Singapura, AS, dan lain-lain, sehingga dianggap sangat cukup dalam mewakili keragaman konteks situasional dari bisnis dari berbagai belahan dunia.

Hasil riset Enders dan tim, menunjukkan bahwa saat mereka dihadapkan pada konteks permasalahan yang jauh lebih kompleks, maka mayoritas dari manajer senior tersebut secara tersistematis akan membatasi alternatif dan kriteria dari pemilihan opsi yang sudah tersedia, yaitu rata-rata dari ukuran grid berupa keputusan antara 4 sampai 10 (opsi x kriteria) saja dan bahkan beberapa dari kriteria tersebut terdapat yang saling tumpang tindih, bukan sangat murni dari dua kriteria yang berbeda. Misalnya mereka sebutkan terdapat kriteria “tanggungjawab” dan kriteria “akuntabilitas”, padahal kedua kriteria tersebut pada esensinya adalah sama, jadi sebenarnya hanya ada satu kriteria.

Jadi intinya adalah untuk bisa mendapatkan pemikiran yang “out of the box/ keluar dari kotak” dan keputusan yang jauh lebih optimal, maka ukuran dari grid keputusan harusnya lebih diperluas lagi. Melingkupi sebanyak mungkin opsi, dan juga untuk kriteria pemilihan harus lebih kaya dan tidak sampai tumpang tindih. Dari sinilah peranan dari kemampuan dalam hal perumusan permasalahan menjadi esensial, sehingga para manajer tidak sampai terburu-buru dalam mencari solusi dengan framing yang terlalu sempit di awalnya.

Yang boleh jadi tidak terpikirkan sebelumnya adalah jika manajer akan terjun langsung untuk terus berupaya dalam mencarikan solusinya. Perumusan masalah memang menjadi bagian penting dalam rangkaian proses pencarian solusi, seperti ungkapan Einstein: “If I were given one hour to save the planet, I would spend 59 minutes defining the problem and one minute resolving it (Jika saya diberikan waktu hanya satu jam untuk menyelamatkan planet ini, maka saya akan menghabiskan 59 menit untuk menentukan masalahnya dan satu menit untuk menyelesaikannya)”.
 

 

 

 

Groedu Academy E-Learning

City Of Tomorrow Mall, Jl. A Yani No. 288 (Bunderan Waru) Lantai UG, Blok US 23, No. 3 & 5, Surabaya.

Handphone : 0818521172 (XL), 081252982900 (Simpati)
Office (only call no sms)  : 0811-3444-910
Email : groedu@gmail.com/groedu_inti@hotmail.com